Rabu, 30 Agustus 2017

Pendidikan Itu Sangatlah Penting

Saya tak pernah menyangka bisa mengenyam pendidikan sampai sarjana. Jadi, intinya dulu itu, pokoknya saya harus sekolah. Terserah sekolah apapun itu. Begitu juga dengan masalah kuliah di suatu kampus. Pokoknya kuliah, terserah di kampus mana. Tak ada ekspektasi bahwa saya harus lulus secepatnya, tak ada niat untuk menggapai IPK tinggi dan terserah mau kerja dimana, kecuali belakangan ini memang saya sudah mewacanakan untuk jadi wartawan. Saya nikmati semua proses itu sejak dibangku sekolah dan kuliah.

Cap masyarakat, sekolah tinggi sekarang sudah tak ada gunanya lagi. Apalagi sarjana, sudah banyak yang menjadi pengangguran. Yang pengangguran, banyak dimana-mana, ngapain kita sekolah lagi. Kalau yang sekolah saja susah cari kerja, gimana yang tidak sekolah?

Jadi sekolah itu tidak penting bagi mereka dan ini sangat mempengaruhi mental anak-anak muda emas Indonesia. Bagaimana Negara ini mau maju, bila penduduknya takut sekolah? Sadarlah wahai generasi tua, jangan suka bicara sembarangan. Dikit-dikit jangan sekolah. Sekolah tidak penting. Banyak sarjana pengangguran.

Kenapa saya menulis ini? Karena menurut saya pendidikan itu sangat penting. Walaupun sekolah dan kuliah itu bukan jalan setiap orang. Saya tak mau menganggap orang tak sekolah dan kuliah itu bodoh. Tapi saya mengerti begitu banyak orang yang pengen sekali kuliah dan berpendidikan tinggi. Karena menurut saya, pendidikan itu memberikan wawasan dan nilai-nilai tak terhingga harganya. 

Bukan karena tidak sabar. Memang semenjak dari kecil, ketika belum sekolah dulu banyak orang di kampung saya yang bilang, bahwa sekolah itu tidak penting. Menginjak SD, ada juga yang bilang, bahwa sekolah itu tidak perlu tinggi-tinggi, cukup bisa membaca saja. SMP, SMA bahkan waktu kuliah dulu pun juga banyak orang yang bilang kepada saya bahwa pendidikan itu tidaklah penting. Dan satu lagi yang membuat saya tidak terima adalah rumor di masyarakat saya itu percaya bahwa sarjana itu banyak yang menjadi pengangguran.

Pengangguran. Emang apa yang salah dengan pengangguran? Iya juga kalau ada dampak negatif dari pengangguran itu ada. Yang jadi permasalahannya, pengangguran itu dihubungkan dengan sekolah dan gelar sarjana. Pendidikan menjadi acuan buat profesi atau pekerjaan seseorang. Sialnya, kalo sarjana tidak kerja kantoran atau menjadi PNS di cap sebagai pengangguran. Lah bagaimana sarjana yang buka usaha dan menjalankan bisnisnya sendiri?

Pengangguran akan selalu ada di dunia ini, tak terkecuali di negeri kita, di tempat kita tinggali. Akan ada selalu penganggur. Seringnya, pendidikan yang dijadikan kambing hitam dari banyaknya pengangguran itu.

Kalo kita saksikan konten pada sinetron, film, acara-acara TV, media-media mainstream, bahkan pada sebuah lagu galau pun cukup banyak yang menyampaikan, betapa banyaknya sarjana yang menjadi pengangguran.

Menurut saya, jangan malah memperkuat cap masyarakat terhadap banyaknya sarjana yang menjadi pengangguran. Cukup kamu yang menderita saja, dan deritanya tolong jangan dibagikan ke orang-orang yang ingin bermimpi. Dalam hal ini, bermimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Ini juga menurut saya, pasti ada konspirasi dibalik kata “banyak sarjana yang jadi pengangguran”. Bahkan, sebagaimana yang sudah kita ketahui, cukup banyak karikatur-karikatur orang yang tidak berpendidikan bilang buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh gaji kerjanya dibawah orang yang rendah pendidikannya dibandingkan dia. 

Lalu mulailah anak-anak gemilang cerdas takut akan sekolah dan bahkan banyak diantara mereka-mereka yang kini putus sekolah. Pemerintah kini jadi kewalahan ngurus rakyatnya supaya berpendidikan. 

Andai pemerintah “menggalakan” kampanye pentingnya pendidikan. Pastinya keluarga dan orang di kampong saya akan mau bersekolah. Tapi itu juga kesalahan saya dan orang-orang yang tak mau mendengar petuah guru dahulu. Jadilah kita ini pekerja kasar. Meskipun pemerintah saat ini, sangat gencar-gencarnya bilang sekolah, sekolah dan sekolah hingga sarjana.
Share: 

1 komentar:

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda